Ndas Mangap: Sebuah Trilogi (bagian 3 – habis : Boediono)
Untuk narasumber terakhir yaitu Boediono, tim bajulijo.net masih kesulitan untuk bertemu langsung dengan beliau.
Namun, bersumber dari Youtube (link:The First and The Biggest (footage 1) : Interview dengan Budiono ) dengan (akun:fajarjunaedi).
Kami mencoba menulis kembali petikan wawancara tersebut.
Prelude
“Kalau saya boleh bercerita , Pertama gambarnya miring.”
“Ada 3 kali perubahan, menatap ke depan (desain 1) dan menatap ke atas (desain 2) terus kita melihat masa depan (desain 3).”
“Jadi punya optimistis, teriaknya teriak kesemangatan juga.”
“Kalau menurut bayangan saya “Merdeka”, Waktu itu semangat 10 November…Merdeka!.”
“Tapi orang bisa berasumsi gambar apa itu, tapi yang jelas itu gambar-gambar pahlawan pada umumnya.”
desain 1
desain 2
desain 3
Pertanyaan kedua
“Saya juga tidak mengira, bahwa waktu logo itu saya buat itu akhirnya dipakai untuk para bonek.”
“Saya hanya membuat / meneruskan gambar yang awal mula dari mister (muchtar).”
“Ketika dari sisi miring, dan sisi kanan dan sisi kiri kurang bagus.”
“Maka saya buat tengah, itu hanya untuk kepentingan untuk media koran (Jawa Pos).”
“Jadi tidak untuk para bonek, tapi karena mungkin (pikiran saya) karena para bonek memilih daripada logo seperti itu (lambang Persebaya) lebih baik logo seperti itu (Ndas Mangap).”
Mulai kapan tren penggunaan logo kepala berteriak?
“Ketika logo itu dibuat ketika Tret Tet Tet, kalau tidak salah 88-89, ketika logo itu dibuat.”
“Karena waktu Tret Tet Tet logo yang member semangat ya orang teriak Merdeka teriak Persebaya.”
“Kalau dilihat dulu ada merah putih (ikat kepala) gantinya Persebaya (ikat kepala) atau Green Force. Green Force era berikutnya, saya belum masuk.”
Mengenai ide ikat kepala, Ada pertimbangan mengapa ikat kepala digunakan?
“Karena saya waktu kecil, saya melihat sosok yang digambarkan sebagai pahlawan.”
“Saya lahir di Jogja, besar di Surabaya. Jadi tahu bagaimana waktu tujuh belasan, waktu 10 November.”
“Bagaimana mereka memakai ikat kepala merah putih, rambut panjang , pakai sarung, bawa bambu runcing. Sudah itu ikon, ikon heronya Surabaya waktu itu.”
Ini memiliki makna kepahlawanan yang mendalam?
“Ya menurut saya seperti itu. Saya menggambar, berpikiran seperti itu. Waktu masih kecil saya ya membayangkan seperti itu.”
Ketika membuat ini?
“Ya ketika teriak itu, teriaknya Merdeka!!. Sekali Merdeka Tetap Merdeka!. Itu saja.”
Apakah ini terinspirasi tokoh kepahlawanan, Bung Tomo misalnya?
“Tidak, ini mewakili umum saja. Rakyat biasa. Tidak mewakili tokoh, hanya semangat arek-arek suroboyo waktu itu.”
“Yang dulu saya gambarkan rambutnya panjang, pakai ikat, pakai sarung atau bawa bambu runcing kalau khasnya Surabaya. Seperti itu.”
Ini awalnya orangnya pakai kaos atau apa sebenarnya?
”Tidak, saya hanya membuat kepala saja. Hanya ekspresi saja, Ekspresinya berteriak.”
Boediono
Terimakasih sebesar-besarnya kepada Boediono dan Fajar Junaedi.
width="640" height="390" src="http://www.youtube.com/watch?v=ix2gGXabYss"
frameborder="0" allowFullScreen>














Komentar: