Ndas Mangap: Sebuah Trilogi (bagian 2 : Slamet Oerip Prihadi)
TRET TET TET
Musim kompetisi perserikatan 1985-1986, kondisi Persebaya benar-benar terpuruk. Hanya berada di posisi 9 dari 10 tim yang berlaga. Ini membuat Dahlan Iskan (Pemimpin Jawa Pos) tergugah untuk membenahi.
“Pak Dahlan mengumpulkan tokoh-tokoh olahraga Surabaya. Mengadakan sarasehan. Di pertemuan itu menghadirkan Moh Barmen, Abu Romli,dan beberapa akademisi. Hasil dari diskusi itu adalah Persebaya harus bangkit!.”
“Sehingga boleh dikatakan Jawa Pos menjadi motor kebangkitan Persebaya, Merumuskan bagaimana arek-arek Surabaya bangkit kembali dengan satu kesatuan yang kompak.”
“Pak Dahlan Iskan pernah survey ke Inggris, disana antara koran dan sepakbola saling melengkapi. Koran naik oplah jika memberitakan Persebaya, Persebaya naik pamor karena Koran terus menerus memberitakan.”
Hubungan antara Jawa Pos dengan Persebaya semakin erat. Musim Perserikatan 1986-1987, prestasi Persebaya moncer. Persebaya masuk ke 6 besar perserikatan dan berlanjut di laga final perserikatan Perserikatan 1986-1987. Tret tet tet dimulai.
“Istilah tret tet tet oleh Dahlan Iskan, digerakkan dan dimobilisasi dengan Jawa Pos.”
Namun, apa identitas / atribut untuk suporter Persebaya? Untuk membedakan suporter Persebaya dengan yang lainnya, maka dipilihlah kaos dan slayer bertuliskan “Persebaya 1987”.
“Dulu suporter hanya bersifat perorangan, ribuan seperti tret tet tet ini belum ada apalagi naik bis bareng-bareng dan memakai atribut.”
“Saat itu pendukung tim-tim besar lainnya seperti PSMS, Persija atau Bandung (Persib) tidak ada atribut kebesarannya. Hanya suporter Persebaya.”
“Dari semua pendukung klub perserikatan , hanya pendukung Persebaya yang kesemuanya memakai seragam hijau.”
“Pionir dari semua ini adalah Persebaya, Apalagi Jakarta tidak ada apa-apanya. Jakarta itu baru-baru saja banyak pendukungnya.”
“Waktu itu sampai-sampai kami menyewa 3 pesawat Garuda.”
“Jawa Pos mengurusi semua. Dari kaos, makan sampai tiket pertandingan.”
“Saya ngurusi tiket di Jakarta bersama Suleman Ros.”
“Ketua DPRD Moh Said, Danrem Imam Utomo, Ketua Harian Persebaya EE Mangindaan juga ikut berangkat ke Jakarta. Aktor Ratno Timur dan Penyanyi Mamiek Slamet menjadi tuan rumah di Jakarta.”
“Pendukung Persebaya merata dari kalangan menengah sampai atas, Jadi kelas bawah juga ikut terangkat.”
“Tidak ada rusuh, karena diatas ada panutan dan disegani.”
“Semua kami kerahkan untuk Tret tet tet ini, termasuk preman-preman arek suroboyo yang di Blok M.”
NDAS MANGAP
“Yang membuat julukan Green Force adalah Zaenal Mutaqien.”
“Dan yang memberi istilah Kami Haus Gol Kamu adalah Dahlan Iskan.”
“Logo Ndas Mangap pertama kali dibuat oleh Muchtar. Kemudian disempurnakan oleh Boediono, Logo Ndas Mangap versi baru muncul di tahun 1990.”
“Tidak ada maskot bagi suporter di seluruh Indonesia kecuali suporter Persebaya.”
PELOPOR
“Pelopor suporter terorganisasi adalah Surabaya.”
“Kemunduran pengorganisasian suporter dimulai di musim kompetisi 1988/1989-1989/1990-1990/1991, Suporter sudah banyak ngandhol kereta, tidak terorganisasi lagi.”
“Jawa Pos tidak berani mengadakan Tret tet tet lagi karena semakin banyak suporter yang tidak terorganisir. Ada kereta ajur, lari (minta tanggung jawab) ke Jawa Pos.”
“Pak Dahlan trauma. Namun, masih mendukung total berita tentang Persebaya. Sudah tidak mau mengorganisasi lagi.”
bersama bajulijo.net
Terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga besar Slamet Oerip Prihadi.











Komentar: