hits counter
Satu Warna Jutaan Arti

Mungkin kita sudah mengetahui  atau bahwa sepakbola adalah olahraga rakyat Indonesia. Olahraga yang dimainkan dari gemerlapnya kota-kota metropolis hingga pelosok-pelosok desa terpencil di kolong langit. Sejarah mencatat bahwa sepakbola di Indonesia dijadikan sebagai salah satu alat perlawanan melawan penjajahan.

Para pemimpin pergerakan kita dahulunya adalah pecinta dari permainan ini bahkan tak jarang dari mereka yang merupakan pemain sepakbola. Kita ambil contohnya adalah Hatta. Hatta pada saat mudanya adalah seorang penyerang yang sangat andal serta back yang sangat tangguh.

Hatta tidak banyak mempunyai kegemaran. Tapi dalam memoarnya diungkapkan bahwa waktu masih kecil dan pada masa mudanya ia sangat senang menonton dan bermain sepak bola. Hatta adalah penyerang andal, tapi juga sohor sebagai back yang kedot. Ia tidak mau bermain kasar. Kalau lawan bermain kasar, ia hanya berkata, “Tidak baik bermain seperti itu. Kita berolahraga untuk mencari persahabatan dan untuk kesehatan.”

Lebih lanjut ketika membaca Tempo edisi khusus 100 Tahun Bung Hatta (12/12/2002),

Sebagai anak muda, dia juga menemukan kesenangan hidup, joei de vivre, salah satunya ada di Plein van Rome, lapangan sepak bola yang terletak di alun-alun kota, di depan kantor Gemeente Padang. Hatta bergabung dalam klub sepak bola Young Fellow. Pemainnya terdiri anak-anak Belanda dan pribumi. Klub ini pernah menjadi juara Sumatera selama tiga tahun berturut-turut semasa Hatta menjadi anggotanya.

Marthias Doesky Pandoe (78 tahun), seorang wartawan tua dari Padang, menyimpan banyak kenangan tentang periode ini. Menurutnya, teman-teman sepermainan Hatta yang pernah ditemuinya bercerita bahwa proklamator kita adalah gelandang tengah, sesekali dia menjadi bek, yang tangguh. Orang-orang Belanda memberinya julukan onpas seerbar, sukar diterobos begitu saja.

Rahim Oesman, bekas temannya di MULO yang belakangan menjadi dokter ahli penyakit dalam, adalah tukang jinjing sepatu bola Hatta. Dengan menenteng sepatu itu, dia bisa masuk ke lapangan pertandingan dan menonton pertandingan dengan gratisan. Kegemaran Hatta pada bola tak hilang ketika dia telah menjadi salah satu tokoh politik terpenting Indonesia. Dia tak pernah absen menonton pertandingan besar.

Dan Hatta adalah salah satu dari dua tokoh, selain Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjadi Ketua KONI, yang mendapat hadiah kartu gratis untuk menonton sepakbola dari Ali Sadikin tatkala mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjabat sebagai Ketua PSSI.

Di masa tuanya, Hatta tetap menggemari bola dan mengenang Plein van Rome. Pada awal 1970-an, saat Pandoe bertamu ke rumah Hatta di Jakarta, tuan rumah bertanya, “Di mana letak Plein van Rome sekarang ?” Pandoe menjawab bahwa lapangan bola itu masih ada, tapi kini telah menjadi alun-alun Kota Padang. Namanya sudah berganti menjadi Lapangan Imam Bonjol, yang berlokasi tepat di depan Kantor Balai Kota Padang.

Lalu ada Sutan Sjahrir, Soekarno, Tan Malaka dan MH Thamrin :

Sutan Sjahrir

Sjahrir, menurut penulis biografinya, Rudolf Mrazek, sejak di Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah rendah Eropa di Medan pada 1915, sudah sohor sebagai penggila bola. Tidak seperti Hatta, bagi Sjahrir sekolah tak boleh menganggu kegemarannya akan sepak bola. Sjahrir sohor sebagai penyerang tengah yang “ahli, tangkas, dan pandai”.

tim sepakbola sjahrir dan hatta

Menjelang keberangkatan mereka ke Banda Neira (1 februari 1936) diselenggarakan pertandingan sepakbola di Boven Digul.Berdiri ketiga dari kanan: Sutan Sjahrir (S). Sedangkan Hatta (H) Berdiri kelima dari kiri.

Kutipan dari Mengenang Sjahrir: Seorang Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisihkan dan Terlupakan, H Rosihan Anwar, 2010

Bersama pemuda-pemuda yang sebagian besar tinggalnya di bagian selatan kota, khususnya sekitar jalan Poengkoer, Sjahrir pernah ikut perhimpunan dalam perkumpulan sepakbola “Voetbalvereeniging Poengkoer” bersama kawan pemuda lainnya seperti Ma’mun, Soemantri, Siwojo, Wiwi, Soebagio, Lagimoen, Boediono dan saya sendiri. Sebagai pemain tengah bagian muka, Sutan sangat gesit dan cepat waktu lari membawa bola di daerah lawan, selalu dengan tepat mematahkan tipu muslihat lawannya yang dihadapi, dengan cekatan menerobos benteng pertahanan musuh, dan dengan manis menendang bola ke dalam gawang lawan.

Berkat memiliki seorang goalgetter seperti Sutan, sering perkumpulan kami dapat memenangi pertandingan melawan klub sepakbola lainnya. Antara klub lawan yang terkenal sebagai perkumpulan kuat dan sedikit pula ditakuti dengan back-nya adalah Burhanuddin, yang betul-betul disegani karena tinggi badannya dan membahayakan pakuan sepatunya, adalah perkumpulan sepakbola “Singgalang” dari pemuda-pemuda Minang di Bandung. Dengan sikapnya yang terbuka, selalu gembira dan sportif, pula di kalangan voetbal-sport, dari kawan maupun lawan ia banyak mendapatkan kawan-kawan baru. Perhatian Sjahrir kepada olahraga voetbal tampak hingga waktu namanya terkenal sebagai politikus dan negarawan.

Waktu tinggal di jalan Jawa 61, ia masih sering pergi menonton pertandingan antara kesebelasan yang dianggap penting dari dalam, maupun dari luar negeri. Sjahrir selalu memperhatikan antusiasmenya akan pemain-pemainnya dan jalannya pertandingan. Di antara kawan-kawan yang usianya lebih muda terdapat beberapa yang keheranan bahwa seorang tingkatan Sutan masih dapat mengikuti olahraga voetbal dengan gembira dan penuh semangat. Bagi kami, kawan-kawan yang sebaya hanya melihat kenyataan bahwa Bung Kecil tetap memiliki jiwa sportivitas dalam segala permainannya hingga ia meninggalkan kita lebih dulu ke alam baka.

Soekarno

Ketika masih di sekolah dasar / sekolah ILS (Inlandsche School) Mojokerto  pada 1911, Sukarno sohor sebagai pesepak bola andal.

Bung Karno kepada Cindy Adams , dalam biografi Penyambung Lidah Rakyat

“Bagaimana pun, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari zamanku tidak dapat menunjukkan keahliannya. Misalnya Perkumpulan Sepakbola,”

Anak-anak Belanda dengan pongahnya berdiri di kedua sisi pintu masuk lapangan sambil berteriak, “Hei… kauuu… Bruine… Hei, anak kulit coklat goblok yang malang… Bumiputera… inlander… anak kampung…. Hei, kamu lupa memakai sepatu…..”

Sedangkan, bayi-bayi pirang pun sudah tahu cara meludah kepada inlander…. Begitu mereka lepas dari kain-bedong orok, itulah pengajaran pertama yang diberikan para orangtuanya. Meludah kepada inlander… mencemooh… menganggap rendah… menilai hina-dina…. kepada bangsa Indonesia!

Selanjutnya, tak ada informasi lagi ihwal Sukarno sebagai pemain sepak bola, tapi kesadarannya tentang posisi sepak bola sebagai medium politik kebangsaan itu terus hidup sampai dia dijatuhkan pada 1965. Ini tercermin dalam bagaimana Sukarno memilih langsung Ketua PSSI dan membuat stadion sepak bola paling megah di dunia saat itu, Gelora Senayan, mengalahkan stadion di Brasil.

Tan Malaka

Tan Malaka bahkan menjadi seorang penyerang handal di klubnya yang bernama Vlugheid Wint (Kecepatan Menang) sewaktu beliau tinggal di Haarlem pada 1914-1916.

Nama perkumpulan itu sesuai dengan cara Tan Malaka bermain, “kecepatannya luar biasa”, karena itu “ia segera mendapat sukses”. Tan Malaka bermain di garis depan. Dia penyerang yang gesit dan licin, terutama sangat berbahaya kalau ia merumput tak bersepatu alias nyeker.

Dari buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945 , diketahui bahwa

Peran Tan semakin besar ketika dia ditunjuk sebagai Ketua Badan Pembantu Keluarga Peta—organisasi sosial yang membantu tentara bentukan Jepang, Pembela Tanah Air (Peta). Di bawah panji Badan Pembantu, Tan lebih leluasa mengadakan kegiatan kemasyarakatan, seperti pertunjukan sandiwara atau sepak bola.

Tim sandiwara dan sepak bola itu bernama Pantai Selatan.

Tan menggagas pembangunan lapangan sepak bola di Bayah—kini menjadi terminal. Ia menjadi pemain sayap. Tapi Tan lebih sering menjadi wasit. Selesai bermain, dia biasanya mentraktir para pemain.

Ada juga semangat dari Muhammad Husni Thamrin yang berani mengambil uang sebanyak f 2.000 untuk membuat sebuah stadion di Jakarta.

Thamrin yang mendesak gemeente atau kota praja agar memperhatikan keperluan klub-klub sepak bola pribumi akan lapangan sepak bola. Dia telah merogoh koceknya sendiri f 2.000 sebagai hibah, sehingga untuk pertama kalinya klub pribumi di Batavia punya lapangan sendiri. Itulah lapangan VIJ, yang pada 1932 menjadi tempat pelaksanaan Kejuaraan Nasional II PSSI. Saat pertandingan final antara VIJ dan PSIM, Thamrin secara khusus meminta Soekarno, yang baru saja bebas dari Penjara Sukamiskin, melakukan tendangan pertama tanda dimulainya pertandingan.

Perlawanan yang dilakukan terhadap penjajah juga terletak pada pemilihan kostum tim yang digunakan. Karena mau tak mau kostum tim ini akan menjadi simbol tersirat yang di maknai beragam oleh khalayak ramai. Hal ini lah yang coba kami angkat sebagai tema tulisan.

Sekilas Tentang Kostum Tim Nasional Indonesia

Pada umumnya setiap negara harus mempunyai warna negara yang dianggap mewakili negaranya, warna negara tersebut ada diambil dari sejarah negara tersebut. Ada yang berasal dari warna bendera negara, seperti Italia warna bendera mereka adalah hijau-putih-merah, tetapi dalam kenyataannya pakaian kebesaran timnas italia kenapa warna kostumnya biru? Hal yang aneh tentunya.

Untuk menjelaskan hal ini kita harus menurut pada sejarah dari negara Itali sendiri, warna biru tersebut berasal dari warna kebanggaan keluarga Savoia. Sebuah keluarga yang berhasil menguasai Italia antara 1861-1964. Meski keluarga ini telah runtuh, warna biru masih tetap dipertahankan jadi warna kebesaran timnas Italia hingga saat ini. Selain Italia masih banyak lagi negara yang mengunakan kostum timnas meraka tanpa harus mengikuti warna bendera

Sedangkan Indonesia, kita menganggap merah-putih adalah warna negara kebesaran dari negara kita. Selain jelas-jelas sesuai warna bendera, dalam sejarahnya dua warna ini sangatlah besar peranannya, mulai dari jaman Indonesia kuno hingga Indonesia di jaman milenium ketiga. Nah jadilah kostum utama timnas Indonesia menjadi warna merah dan putih.

Sedangkan kostum kedua, Indonesia mempunyai 3 warna pilihan. Tahun 1962-1974 yaitu : putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Dalam sejarahnya, kostum timnas Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul pada saat PSSI mempersiapkan dua tim untuk tampil di Asian Games IV tahun1962. PSSI membuat 2 tim yaitu : PSSI Banteng dengan kostum merah-putih sebagai kostum utama dan kostum hijau-putih sebagai kostum kedua. Sedangkan PSSI Garuda menggunakan kostum merah-putih dan juga kostum biru-putih.

Akhirnya sebelum Asian Games IV tahun 1962, dua tim tersebut di lebur menjadi satu  timnas saja. Dan akhirnya setelah Asian Games tersebut hingga tahun 1970-an, PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang besar di bagian dada hingga ke perut sebagai kostum utama dan kedua.

Kostum hijau-putih kembali digunakan pada saat persiapan timnas untuk mengikuti kejuaraan  pra-Olimpiade 1976. Hal ini berlanjut pada SEA Games XI-1981 Manila. Pada akhirnya kostum kedua timnas Indonesia dengan warna hijau-putih terus digunakan sampai saat ini,dengan pertimbangan sejarah dan juga pihak endorsement yang ingin untuk menaikkan kembali warna tersebut.

Nah, bagaimanakah pemaknaan bagi kostum hijau-hijau milik Persebaya?

Kapan sih sebenarnya Persebaya identik dengan warna hijaunya?

Kok mirip dengan warna Propinsi Jatim sih?

Ada yang mengatakan sejak hadirnya dahulu warna hijau berhasil “meracuni” para pendiri klub tersebut. Warna ini pun juga “meracuni” bonek untuk selalu mengagungkannya. Jika di Jerman warna hijau ini disebut giftguren alias hijau racun! Yup, hijau racun!

Namun, apakah benar warna kebesaran hijau-hijau muncul bersama Persebaya? Boleh dibantah, sebab di Surabaya menurut faktanya ada beberapa klub yang juga menggunakan warna kostumnya dengan warna hijaunya kan?.

Hijau selalu dikaitkan dengan warna-warna alam yang menyegarkan, membangkitkan energi serta dapat memberi efek menenangkan, menyejukkan, keseimbangan emosi. Warna ini elegan, menyembuhkan, menimbulkan perasaan empati terhadap orang lain. Nuansa hijau bisa meredam stres, memberi rasa aman, nyaman serta mendapat perlindungan. Namun, hijau juga dapat menimbulkan perasaan yang terperangkap.

Sekarang, kita lihat arti warna hijau di Eropa, khususnya di Jerman. Warna hijau adalah warna kehidupan dan tumbuhan. Hijau menjadi simbol kemenangan musim semi atas musim dingin. Warna ini dianggap hangat, merupakan gabungan warna biru yang berarti bagi jiwa dan warna kuning yang menghadirkan kehangatan bagi emosi manusia. Gabungan biru dan kuning menyimbolkan kebijaksanaan dan pertumbuhan. Warna hijau alias gruen atau dalam bahasa Inggris green memiliki akar kata grow yang artinya tumbuh. Boleh jadi, Persebaya memahami arti kata ini dan memilih hijau menjadi warnanya!

Di abad pertengahan di Eropa, warna hijau adalah warna cinta, berbeda dengan warna cinta sekarang ini yang merah atau pink. Para penyanyi dan penyair istana menciptakan sajak dan lagu yang menyebutkan mereka yang jatuh cinta pada putri istana yang sering menggunakan gaun hijau. Warna hijau pun punya kaitan dengan agama Kristen di masa itu. Para seniman melukis salib Yesus dengan warna hijau. Warna hijau di sini melambangkan harapan. Sampai saat inipun begitu, di Jerman, warna hijau menyimbolkan harapan.

Selain bermakna positif, di abad pertengahan warna hijau juga punya makna negatif. Warna ini dipakai sebagai warna ular-ular jahat dan roh-roh jahat. Sehubungan dengan ular yang berbisa, bisa disimpulkan arti kata giftgruen (Gift=racun, gruen= hijau) itu asalnya dari makna: yakni warna ular berbisa itu, atau warna bisa ular.

Dalam kebudayaan China kuno, warna hijau adalah lambang untuk Timur & Kayu; salah satu dari lima warna utama. Banyak negara di Afrika yang menggunakan warna hijau untuk bendera kebangsaan, yang melambangkan kekayaan alam Afrika. Beberapa negara Islam juga demikian. Hijau dianggap sebagai warna tradisi untuk agama Islam. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Insan, digambarkan bahwa para penghuni surga mengenakan pakaian dari sutera berwarna hijau. Nabi Khidir diistilahkan dengan sebutan “The Green One”. Sejumlah partai Islam di Indonesia juga menggunakan bendera berwarna hijau. Ada istilah ijo royo-royo, menggambarkan kondisi & suasana islamisasi secara massive.

Dalam Hindu, warna hijau digunakan sebagai simbol keempat, chakra hati (Anahata). Para pendeta Katolik Roma & Protestan tradisional mengenakan jubah hijau pada upacara kebaktian selama Ordinary Time. Orang yang memiliki aura berwarna hijau dinilai sebagai tipikal orang yang cocok dengan pekerjaan di bidang kesehatan (dokter atau perawat), dan suka dengan hal-hal yang natural.

Kala kostum Persebaya bernuansa hijau-hijau, apakah semua elemen yang mencintai tim ini paham betul makna yang terkandung di dalamnya?. Hmmm, sebenarnya saya ingin bertanya kepada pemain-pemain baik Persebaya 1927 atau Persebaya DU saat ini. Seperti Andik Vermansyah, Mat Halil, Endra Prasetya, La Umbu, Aris Nufriandi, Kuncoro dll. Tapi, saya kira jawabannya bisa diprediksi: ”Emang tak pikirin? Iseng amat sih kamu!”.

Unsur hijau memang tak perlu diperdebatkan panjang. Itu hanyalah sebuah klise pemaknaan yang bermacam-macam, agar ada sedikit aksen perubahan pemikiran jika kita melihat sebuah simbol eksplisit dari para sesepuh kita dahulu.

Ada contoh beberapa klub yang memakai kostum hijau walaupun bukan merupakan kaos utama mereka, yakni Barcelona. Tempatnya Messi, Xavi, Victor Valdes, David Villa, Andreas Iniesta dll. Prestasi mereka juga cukup tersohor di Eropa maupun dalam peta sepak bola dunia.

Semoga pencapaian prestasi Persebaya bisa seperti Barcelona sebagai klub terbaik di dunia walaupun hal tersebut akan memakan waktu yang cukup lama.

Wallahu a’lam.

Surabaya, 6 Maret 2011

Penulis : Jemmy HM

Sumber:

  1. www.infosuporter.com
  2. www.indopos.co.id
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Green
  4. http://ms.wikipedia.org/wiki/Hijau
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Blue-green_across_cultures
  6. JJ Rizal, Zaman Gelap Sepak Bola Indonesia
  7. H Rosihan Anwar, Mengenang Sjahrir: Seorang Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisihkan dan Terlupakan, 2010
  8. Harry A Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945

Share this post

  • Subscribe to our RSS feed
  • Share this post on Delicious
  • StumbleUpon this post
  • Share this post on Digg
  • Tweet about this post
  • Share this post on Mixx
  • Share this post on Technorati
  • Share this post on Facebook
  • Share this post on NewsVine
  • Share this post on Reddit
  • Share this post on Google
  • Share this post on LinkedIn

Komentar: