Bonek dan Permasalahan Suporter Indonesia (I)
Tak terasa sudah sekitar 15 tahun sejak liga indonesia diselenggarakan, namun tak banyak perubahan berarti selama satu dekade lebih penyelenggaraan liga, mulai dari bentuk klub, model pengelolaan, hingga suporternya. Memang ketika liga berubah format menjadi liga super beberapa tahun sebelumnya klub klub peserta telah berubah bentuk, namun sayangnya pengelolaan tetap menggunakan cara-cara kuno yang jauh dari nilai-nilai transparan. Selama lebih dari satu dekade itu pula klub dan stake holder sepakbola yang lain seolah juga melupakan (atau setidaknya belum menyadari) pentingnya pengelolaan suporter.
Kerusuhan antar suporter persita dan persikota
Tak heran hingga saat ini belum klub-klub yang benar benar mewadahi suporternya. Akibatnya adalah suporter yang seharusnya menjadi urat nadi klub justru menjadi beban bagi klub. Ada banyak contoh akan hal tersebut misalnya ketika persebaya dihukum sanksi akibat ulah suporternya, hal serupa juga dialami oleh hampir semua klub, mulai persija, persib, persikota, dll.Ironis memang ketika di era sepakbola modern suporter memiliki peran begitu dominan dalam menentukan kelangsungan hidup klub, di liga indonesia suporter justru tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya mereka dapatkan. Kondisi tersebut mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman akan pentingnya peran suporter oleh pengelola klub, maklum sebelumnya sumber pemasukan utama klub adalah APBD bukannya sumber sumber lain yang berkaitan dengan suporter (tiket, merchandise hak siar dll). Alhasil pengelola klub cenderung lebih serius ketika mengurusi hal hal yang berkaitan dengan anggaran daerah dibandingkan permasalahan suporternya.
Hal tersebut diperparah oleh pemberitaan media yang kurang berimbang sehingga semakin menyudutkan suporter sebagai kambing hitam permasalahan di liga indonesia. Terutama permasalahan yang berkaitan dengan aksi negatif suporter, memang suporter memiliki kontribusi yang besar terhadap permasalahan aksi negatif tersebut, namun menurut hemat saya klublah yang harusnya berada dibarisan paling depan dalam mengatasi masalah masalah yang ditimbulkan oleh suporternya. Berbagai aksi negatif suporter yang dialami hampir klub peserta liga seharusnya membuka mata kita semua akan pentingnya pengelolaan suporter sepakbola, sehingga bisa meminimalisir kemungkinan negatif yang bisa terjadi.
Ketika bonek di sweeping di kereta
Contoh sederhana adalah kejadian di lamongan beberapa waktu lalu. Hari itu ribuan Bonek berangkat ke Tangerang via kereta api, namun ditengah perjalanan kereta yang mereka tumpangi tertahan oleh sweeping yang dilakukan LA Mania. Singkat kata kejadian tersebut akhirnya membawa korban. Aksi suporter Persela yang melakukan sweeping memang sulit dimengerti, padahal saat itu ada pihak yang berwenang yang melakukan tugasnya, yang paling parah adalah polisi seakan membiarkan aksi yang menurut hemat saya justru menjatuhkan kredibilitas polisi.
Lalu siapa yang salah dalam tragedi tersebut? Menurut hemat saya, klublah yang paling bertanggungjawab terhadap tragedi tersebut. Kegagalan mereka dalam mengkoordinir dan membina suporternya adalah faktor utama penyebab tragedi tersebut (dan juga permasalahan suporter yang lain). Di era modern sepakbola telah menjadi industri, dan suporter adalah nyawa klub, karena merekalah yang menghidupi klub melalui tiket, merchandise dan hak siar televisi dll. Ibaratnya suporter adalah konsumen klub yang harus mendapat perlakuan istimewa dari perusahaan (klub). Dalam konteks sepakbola, suporter memiliki peran lebih dari sekedar konsumen. mengingat dukungan mereka dan sejarah panjang klub sepakbola itu sendiri. Setelah suporter memberikan segalanya bagi klub kesayangan, pihak klub justru terkesan tidak melakukan apa-apa terhadap suporter yang membuat klub tersebut tetap eksis hingga saat ini.
Aksi anarkis suporter juga terjadi diseluruh penjuru dunia, mulai Eropa, Amerika , Afrika hingga Asia. Para perusuh tersebut dikenal dengan sebutan hooligan, istilah tersebut pertama kali muncul di Inggris. Menurut definisinya hooligan adalah orang orang yang melakukan aksi hooliganisme, Hooliganisme sendiri adalah tindakan kasar, aggresif yang bersifat merusak, dan biasanya berhubungan dengan penggemar olahraga khususnya sepakbola.
Tragedi Heysel dan Hillsborough seakan mempertegas citra hooligan asal Inggris, dalam perkembangannya hooligan telah berubah menjadi budaya global. Franklin Foer dalam bukunya (How Soccer Explains The World: The Unlikely Theory Of Globalization) menulis bahwa hooligan di Yugoslavia terinspirasi oleh hooligan di Inggris. Mereka berubah menjadi brutal terutama ketika tim kesayangannya kalah, terlebih jika tim kesayangannya menghadapi pertandingan penting sarat emosi dan gengsi. Terutama jika pertandingan tersebut merupakan pertandingan antara tim yang memiliki sejarah rivalitas panjang, seperti Real Madrid vs Barcelona, Glasgow Ranger vs Glasgow Celtic, Newcastle United vs Sunderland, Lazio vs AS Roma dll.
“We have to get the game cleaned up from this hooliganism at home and then perhaps we shall be able to go overseas again,” Margareth Thatcher
Ketika tragedi Heysel terjadi, UEFA menjatuhkan sanksi berat bagi sepakbola Inggris dengan melarang klub-klubnya berlaga di even internasional. Pemerintah Inggris tidak main-main dalam menanggapi, bahkan perdana menteri Inggris saat itu, Margareth Thatcher, sampai turun tangan mengatasi masalah hooligan. Di Belgia, tempat berlangsungnya final European Cup Heysel 1985, wakil perdana menteri Belgia bersama beberapa menterinya ikut meletakkan jabatan sebagai tanda ikut bertanggungjawab atas tragedi itu. Thatcher bahkan menyebut hooligan sebagai aib bagi masyarakat yang beradab, saat itu hooligan Inggris memang tengah menjadi sorotan dunia (selain tragedi Heysel saat itu Inggris juga tengah berduka, menyusul tewasnya 56 suporter yang meninggal akibat putung rokok yang membakar infrastruktur stadion yang terbuat dari kayu di Bradford 18 hari sebelum tragedi Heysel) tidak hanya dilevel klub, tapi juga dilevel tim nasional.
Tragedi Heysel 1985
Sejak saat itu hooligan mulai menjadi musuh sepakbola, berbagai hal dilakukan untuk mengatasi masalah hooligan: mulai menerapkan aturan dengan tegas baik dilevel klub maupun otoritas berwenang, berbagai kampanye anti holigans, hingga surat terbuka yang ditulis panitia euro 2008 kepada para hooligan seperti dibawah ini.
Dear Mr/Mrs Hooligan,
Kami tahu bahwa anda adalah orang orang yang tidak bisa selalu mematuhi peraturan dalam ajang olahraga. Oleh karena itu berdasarkan informasi yang kami miliki, anda dilarang masuk ke stadion atau menikmati pelayanan lainnya. Kami sangat berharap anda dapat menikmati ajang olahraga besar ini secara sportif. Kami juga tidak akan menolerir setiap bentuk kekerasan yang muncul dan berusaha meredamnya dengan berbagai cara. Kami harap kita bisa berhadapan dengan cara cara yang baik.
Jika anda semua memiliki pertanyaan, jangan malu untuk menghubungi kami.
Hasilnya adalah aksi hooligan di Inggris saat ini menurun drastis, Inggris dianggap sukses memerangi hooligan. Model penanganan hooligan di Inggris menjadi contoh bagi negara lain dalam memerangi hooligan, tidak terkecuali aksi negatif lain seperti rasisme. Bahkan Kroasia, berencana meniru model pemberantasan hooligan ala pemerintah Inggris.
Bersambung..














Komentar: